_Sumber :
https://id.wikipedia.org/wiki/Planet#Mitologi_dan_pemberian_nama
Sejarah pemberian nama untuk planet - Nama-nama planet di dunia Barat berasal dari praktik pemberian nama Romawi, yang justru berasal dari kebiasaan bangsa Yunani dan Babilonia. Di
Yunani kuno, dua benda bersinar raksasa, Matahari dan Bulan, disebut
Helios dan
Selene; planet terjauh (Saturnus) disebut
Phainon, sang penerang; diikuti oleh
Phaethon (Yupiter), "cerah"; planet merah (Mars) dikenal dengan sebutan
Pyroeis, "berapi-api"; planet paling terang (Venus) disebut
Phosphoros, pembawa cahaya;dan planet terakhir (Merkurius) disebut
Stilbon, berseri-seri. Bangsa Yunani juga membuat setiap planet suci bagi salah satu dewanya,
Dua Belas Dewa Olimpus: Helios dan Selene adalah nama planet dan dewa; Phainon dipersembahkan untuk
Cronus,
Titan yang merupakan ayah para dewa Olimpus; Phaethon dipersembahkan untuk
Zeus, putra Cronus yang menggulingkannya dari takhta raja; Pyroeis dipersembahkan untuk
Ares, putra Zeus dan dewa perang; Phosphoros dipimpin oleh
Afrodit, dewi cinta; dan
Hermes, perantara para dewa dan dewa ilmu dan akal, memimpin Stilbon.
[19]
Praktik bangsa Yunani yang memberikan nama-nama planet sesuai nama dewanya hampir seutuhnya berasal dari kebiasaan bangsa Babilonia. Bangsa Babilonia mengambil nama
Phosphoros dari nama dewi cintanya,
Ishtar; Pyroeis dari dewa perang,
Nergal, Stilbon dari dewa kebijaksanaan
Nabu, dan Phaethon dari dewa pemimpin,
Marduk.
[66] Ada banyak kesamaan antara aturan penamaan Yunani dan Babilonia, padahal mereka berbeda zaman.
[19] Terjemahannya pun tidak sempurna. Misalnya, Nergal-nya Babilonia adalah dewa perang dan bangsa Yunani menyamakannya dengan Ares. Namun tidak seperti Ares, Nergal adalah dewa penyakit dan akhirat.
[67]
Saat ini, banyak orang di dunia Barat mengenal planet dengan nama-nama yang diambil dari dewa-dewa Olympus. Jika bangsa Yunani modern masih memakai nama kuno untuk menyebut planet, sejumlah bahasa Eropa justru memakai nama Romawi (Latin) karena pengaruh
Kekaisaran Romawi dan
Gereja Katolik. Bangsa Romawi, seperti Yunani, adalah
orang Indo-Eropa yang saling berbagi
mitologi dengan nama-nama yang berbeda, namun tidak punya tradisi narasi seperti yang dipersembahkan budaya sastra Yunani untuk
dewa-dewanya. Pada periode akhir
Republik Romawi, para penulis meminjam banyak sekali narasi Yunani dan menerapkannya ke mitologi mereka sampai keduanya tidak bisa dibedakan.
[68] Saat bangsa Romawi mempelajari astronomi Yunani, mereka memberi nama planet sesuai nama dewa-dewanya sendiri:
Mercurius (untuk Hermes),
Venus (Afrodit),
Mars (Ares),
Iuppiter (Zeus), dan
Saturnus (Cronus). Ketika planet-planet selanjutnya ditemukan pada abad ke-18 dan 19, praktik pemberian namanya berlanjut untuk
Neptūnus (
Poseidon). Uranus unik karena diambil dari nama
dewa Yunani alih-alih
versi Romawinya.
Sejumlah orang
Romawi, sesuai kepercayaan yang mungkin berasal dari
Mesopotamia tetapi berkembang di
Mesir Yunani, percaya bahwa tujuh dewa yang menjadi sumber nama planet tersebut menjaga Bumi secara bergilir. Urutan giliran tersebut dari jauh ke dekat adalah Saturnus, Yupiter, Mars, Matahari, Venus, Merkurius, Bulan.
[69] Hasilnya, hari pertama dimulai oleh Saturnus (jam ke-1), hari kedua oleh Matahari (jam ke-25), diikuti Bulan (jam ke-49), Mars, Merkurius, Yupiter, dan Venus. Karena setiap hari diberi nama sesuai dewa yang mengawalinya, begitu pula dengan urutan
nama hari dalam
kalender Romawi yang masih dipakai di sejumlah bahasa modern setelah
siklus Nundinalditolak.
[70] Dalam bahasa Inggris,
Saturday, Sunday, dan
Monday adalah terjemahan langsung dari nama-nama Romawi ini. Nama hari yang lain berasal dari dari
Tiw, (Tuesday)
Wóden (Wednesday),
Thunor (Thursday), dan
Fríge (Friday),
dewa Anglo-Saxon yang sama seperti Mars, Merkurius, Yupiter, dan Venus.
Bumi (
Earth) adalah satu-satunya planet yang namanya dalam bahasa Inggris tidak diambil dari mitologi Yunani-Romawi. Karena Bumi sendiri baru diakui sebagai planet pada abad ke-17,
[36] tidak ada tradisi memberinya nama sesuai nama dewa. Kata
Earth berasal dari bahasa
Anglo-Saxon erda yang berarti daratan atau tanah dan pertama dipakai untuk menyebut Bumi sekitar tahun 1300.
[71][72] Sebagaimana
bahasa Jermanik lainnya, kata ini berasal dari bahasa
Proto-Jerman ertho, "daratan",
[72] dan terlihat kesamaannya pada kata
earth dalam bahasa Inggris,
Erde dalam bahasa Jerman,
aarde dalam bahasa Belanda, dan
jord dalam bahasa Skandinavia. Banyak
bahasa Roman yang memakai kata Roman lama
terra (atau variasinya). Kata tersebut dipakai dengan makna "daratan kering", bukannya "laut".
[73] Bahasa-bahasa non-Roman memakai katanya sendiri. Bangsa Yunani tetap memakai nama asli mereka,
Γή (Ge).
Budaya non-Eropa memakai sistem penamaan planet yang berbeda.
India memakai sistem berdasarkan
Navagraha, yang mencakup tujuh planet tradisional (
Surya untuk Matahari,
Chandra untuk Bulan, dan
Budha,
Shukra,
Mangala,
Bṛhaspati, dan
Shani untuk Merkurius, Venus, Mars, Yupiter, dan Saturnus) dan
nodus bulan naik dan turun
Rahudan
Ketu.
Cina dan negara-negara Asia Timur sudah lama terkena
pengaruh budaya Cina (seperti
Jepang,
Korea, dan
Vietnam) dengan sistem penamaan yang didasarkan pada
lima elemen Cina:
air (Merkurius),
logam (Venus),
api (Mars),
kayu (Yupiter), dan
tanah (Saturnus).
[70]